alifia-zahra
Zahra, 31 y.o.Speaks
Looking for
Friends
Language practice
Education
Bachelor's degree
Occupation
freelance
Relationship status
Single
Joined
9 years ago,
profile updated
5 years ago.
Displaying posts 1
to 10
of 203.
Ada luka yang tidak tampak di wajah, tetapi menetap lama di batin seseorang. Luka itu lahir ketika cinta yang pernah diberikan dengan penuh kepercayaan berubah menjadi penyesalan yang sunyi. Dalam relasi manusia, terutama antara lelaki dan perempuan, ada tanggung jawab batin yang sering diabaikan. Bukan sekadar tentang hadir atau pergi, tetapi tentang bagaimana kehadiran itu meninggalkan jejak, apakah ia menyembuhkan atau justru melukai.
Secara psikologis dan sosial, kelelakian sering disempitkan pada kekuatan, dominasi, atau kemampuan menaklukkan. Padahal, makna terdalamnya justru terletak pada tanggung jawab emosional dan kedewasaan moral. Ketika ada seorang wanita yang menyesal pernah mencintai, itu bukan hanya kisah personal, melainkan cermin tentang kegagalan menjaga amanah perasaan. Di sanalah kelelakian diuji, bukan di hadapan dunia, tetapi di hadapan nurani sendiri.
1. Kelelakian sebagai amanah, bukan hak istimewa
Kelelakian sejati lahir dari kesadaran bahwa setiap perasaan yang dipercayakan adalah titipan. Secara filosofis, amanah menuntut penjagaan, bukan eksploitasi. Ketika seorang lelaki memperlakukan cinta sebagai sesuatu yang bisa digunakan lalu ditinggalkan, ia sedang meruntuhkan makna dirinya sendiri, meski tampak utuh di mata sosial.
2. Luka perempuan adalah cermin kegagalan batin
Penyesalan yang tumbuh di hati seorang wanita bukan datang tiba tiba. Ia terbentuk dari rangkaian sikap, kata, dan keputusan yang mengabaikan empati. Secara psikologis, luka ini sering lebih dalam daripada yang terlihat, dan secara moral, ia menjadi cermin yang jujur tentang kedewasaan lelaki yang bersangkutan.
3. Tanggung jawab emosional adalah bentuk kekuatan tertinggi
Masyarakat sering mengajarkan lelaki untuk kuat dengan cara menahan atau menyingkirkan perasaan. Padahal kekuatan sejati justru muncul ketika seseorang mampu hadir sepenuhnya, mendengar, memahami, dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya. Lelaki yang berani memikul akibat emosional dari sikapnya sedang menapaki bentuk kelelakian yang matang dan bermartabat.
4. Kehormatan tidak runtuh karena kesalahan, tetapi karena pengingkaran
Setiap manusia bisa salah, termasuk dalam mencintai. Namun kehormatan seorang lelaki benar benar gugur ketika ia menolak mengakui luka yang ia sebabkan. Secara sosial, pengingkaran ini melahirkan siklus ketidakadilan emosional. Secara batin, ia mengeraskan hati dan menjauhkan diri dari pertumbuhan jiwa.
5. Menjadi lelaki berarti meninggalkan jejak yang menenangkan
Kehadiran seorang lelaki dalam hidup seorang wanita seharusnya membawa rasa aman, bahkan jika takdir memisahkan. Ketika yang tertinggal justru penyesalan, itu tanda bahwa relasi tersebut gagal menjaga kemanusiaan. Lelaki yang utuh adalah ia yang kepergiannya tidak melukai, dan kenangannya tidak membuat seseorang menyesal pernah mencintai.
Jika suatu hari ada seseorang yang menyesal pernah mempercayakan hatinya kepadamu, apakah kamu akan berani bertanya dengan juj
Secara psikologis dan sosial, kelelakian sering disempitkan pada kekuatan, dominasi, atau kemampuan menaklukkan. Padahal, makna terdalamnya justru terletak pada tanggung jawab emosional dan kedewasaan moral. Ketika ada seorang wanita yang menyesal pernah mencintai, itu bukan hanya kisah personal, melainkan cermin tentang kegagalan menjaga amanah perasaan. Di sanalah kelelakian diuji, bukan di hadapan dunia, tetapi di hadapan nurani sendiri.
1. Kelelakian sebagai amanah, bukan hak istimewa
Kelelakian sejati lahir dari kesadaran bahwa setiap perasaan yang dipercayakan adalah titipan. Secara filosofis, amanah menuntut penjagaan, bukan eksploitasi. Ketika seorang lelaki memperlakukan cinta sebagai sesuatu yang bisa digunakan lalu ditinggalkan, ia sedang meruntuhkan makna dirinya sendiri, meski tampak utuh di mata sosial.
2. Luka perempuan adalah cermin kegagalan batin
Penyesalan yang tumbuh di hati seorang wanita bukan datang tiba tiba. Ia terbentuk dari rangkaian sikap, kata, dan keputusan yang mengabaikan empati. Secara psikologis, luka ini sering lebih dalam daripada yang terlihat, dan secara moral, ia menjadi cermin yang jujur tentang kedewasaan lelaki yang bersangkutan.
3. Tanggung jawab emosional adalah bentuk kekuatan tertinggi
Masyarakat sering mengajarkan lelaki untuk kuat dengan cara menahan atau menyingkirkan perasaan. Padahal kekuatan sejati justru muncul ketika seseorang mampu hadir sepenuhnya, mendengar, memahami, dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya. Lelaki yang berani memikul akibat emosional dari sikapnya sedang menapaki bentuk kelelakian yang matang dan bermartabat.
4. Kehormatan tidak runtuh karena kesalahan, tetapi karena pengingkaran
Setiap manusia bisa salah, termasuk dalam mencintai. Namun kehormatan seorang lelaki benar benar gugur ketika ia menolak mengakui luka yang ia sebabkan. Secara sosial, pengingkaran ini melahirkan siklus ketidakadilan emosional. Secara batin, ia mengeraskan hati dan menjauhkan diri dari pertumbuhan jiwa.
5. Menjadi lelaki berarti meninggalkan jejak yang menenangkan
Kehadiran seorang lelaki dalam hidup seorang wanita seharusnya membawa rasa aman, bahkan jika takdir memisahkan. Ketika yang tertinggal justru penyesalan, itu tanda bahwa relasi tersebut gagal menjaga kemanusiaan. Lelaki yang utuh adalah ia yang kepergiannya tidak melukai, dan kenangannya tidak membuat seseorang menyesal pernah mencintai.
Jika suatu hari ada seseorang yang menyesal pernah mempercayakan hatinya kepadamu, apakah kamu akan berani bertanya dengan juj
Sering kali manusia terjebak dalam kelelahan batin karena terlalu fokus pada apa yang belum tercapai. Mata terus menatap ke depan, sementara tangan menggenggam sesuatu yang tak lagi dihargai. Keinginan yang berlebihan perlahan menggerus rasa syukur, membuat hidup terasa selalu kurang, meski sebenarnya banyak hal sudah terpenuhi.
Masalahnya bukan pada mimpi, melainkan pada lupa berhenti sejenak untuk menghargai proses. Saat satu target tercapai, pikiran langsung melompat ke target berikutnya. Kebahagiaan ditunda terus-menerus, seolah hidup baru layak dinikmati setelah semua keinginan terkumpul, padahal waktu terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita.
Contohnya terlihat pada seseorang yang telah memiliki pekerjaan stabil, namun terus membandingkan dirinya dengan orang lain yang gajinya lebih besar. Alih-alih bersyukur, ia justru merasa gagal setiap hari, padahal dulu posisi itu adalah doa yang ia ucapkan berkali-kali sebelum tidur.
Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan. Ada pasangan yang sebenarnya sudah saling mendukung, tetapi rusak karena salah satunya membayangkan hubungan ideal seperti yang ia lihat di luar. Keindahan yang nyata dikorbankan demi bayangan yang belum tentu memberi ketenangan.
Bukan berarti manusia harus berhenti bercita-cita. Keinginan tetap penting sebagai arah, namun rasa cukup dibutuhkan agar langkah tidak berubah menjadi keluhan. Saat seseorang mampu merawat apa yang ada, ia justru berjalan lebih ringan menuju hal-hal yang belum dimiliki.
Pada akhirnya, hidup menjadi lebih utuh ketika kita sadar bahwa banyak hal yang kini terasa biasa dulu adalah harapan besar. Dengan menjaga apa yang ada, mimpi baru bisa dikejar tanpa harus merusak kebahagiaan yang sudah lebih dulu hadir.
Masalahnya bukan pada mimpi, melainkan pada lupa berhenti sejenak untuk menghargai proses. Saat satu target tercapai, pikiran langsung melompat ke target berikutnya. Kebahagiaan ditunda terus-menerus, seolah hidup baru layak dinikmati setelah semua keinginan terkumpul, padahal waktu terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita.
Contohnya terlihat pada seseorang yang telah memiliki pekerjaan stabil, namun terus membandingkan dirinya dengan orang lain yang gajinya lebih besar. Alih-alih bersyukur, ia justru merasa gagal setiap hari, padahal dulu posisi itu adalah doa yang ia ucapkan berkali-kali sebelum tidur.
Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan. Ada pasangan yang sebenarnya sudah saling mendukung, tetapi rusak karena salah satunya membayangkan hubungan ideal seperti yang ia lihat di luar. Keindahan yang nyata dikorbankan demi bayangan yang belum tentu memberi ketenangan.
Bukan berarti manusia harus berhenti bercita-cita. Keinginan tetap penting sebagai arah, namun rasa cukup dibutuhkan agar langkah tidak berubah menjadi keluhan. Saat seseorang mampu merawat apa yang ada, ia justru berjalan lebih ringan menuju hal-hal yang belum dimiliki.
Pada akhirnya, hidup menjadi lebih utuh ketika kita sadar bahwa banyak hal yang kini terasa biasa dulu adalah harapan besar. Dengan menjaga apa yang ada, mimpi baru bisa dikejar tanpa harus merusak kebahagiaan yang sudah lebih dulu hadir.
Women are often compared to the ocean because the depth of their feelings is unpredictable.
There are calm days, there are rough days, and there are times when storms come without warning. This change is not a sign of weakness, but rather proof that feelings are alive and moving according to experiences, wounds, hopes, and love received or disappointed.
On the other hand, men are depicted as sailors who choose to sail on the ocean. Being a sailor means realizing that the journey isn't always comfortable.
He can't demand that the sea always be friendly, because the essence of sailing is being prepared to face uncertainty. Determination, patience, and the courage to read the course are the main assets to avoid being shipwrecked by momentary emotions.
A mature relationship is born when both parties understand their respective roles. The sea doesn't need to apologize for its waves, and sailors have no right to blame the storm.
What is needed is mutual understanding, learning to survive without hurting each other, and realizing that the journey together isn't about domination, but about growing amidst change.
There are calm days, there are rough days, and there are times when storms come without warning. This change is not a sign of weakness, but rather proof that feelings are alive and moving according to experiences, wounds, hopes, and love received or disappointed.
On the other hand, men are depicted as sailors who choose to sail on the ocean. Being a sailor means realizing that the journey isn't always comfortable.
He can't demand that the sea always be friendly, because the essence of sailing is being prepared to face uncertainty. Determination, patience, and the courage to read the course are the main assets to avoid being shipwrecked by momentary emotions.
A mature relationship is born when both parties understand their respective roles. The sea doesn't need to apologize for its waves, and sailors have no right to blame the storm.
What is needed is mutual understanding, learning to survive without hurting each other, and realizing that the journey together isn't about domination, but about growing amidst change.
People will miss you when they fail to find someone who is the same as you.
In a world full of emotional transactions, love often comes with conditions. Some love because they want to be possessed, others endure because they fear loss, and still others give attention while secretly demanding something in return. So when someone loves without demands, without the desire to bind, without the urge to control, it is both rare and soothing to the soul.
Love that asks for nothing but the safety and well-being of the loved one is born from a mature heart. It does not grow from a void that needs to be filled, but from an abundance that needs to be shared. Psychologically, this kind of love signifies emotional maturity, because it does not use others as instruments to satisfy wounds or ego-driven needs.
From a philosophical perspective, this kind of love approaches the meaning of pure love. It is not oriented toward possession, but toward caring. It is not noisy with claims, but present in prayer, silence, and sincere attention. There, love transforms from desire to inner responsibility, from passion to clear concern.
Spiritually, love that desires only the well-being of others is a reflection of love for God. It teaches that loving does not always mean approaching, grasping, or demanding a role in someone's life. Sometimes, the highest form of love is ensuring that the person we love remains whole, calm, and unharmed, even without us.
How beautiful it would be if, in this demanding life, we were met with a heart that silently prayed for us, whose happiness depended not on our presence by their side, but on the news that we were well. Such love doesn't bind our steps, but strengthens our souls.
Love that asks for nothing but the safety and well-being of the loved one is born from a mature heart. It does not grow from a void that needs to be filled, but from an abundance that needs to be shared. Psychologically, this kind of love signifies emotional maturity, because it does not use others as instruments to satisfy wounds or ego-driven needs.
From a philosophical perspective, this kind of love approaches the meaning of pure love. It is not oriented toward possession, but toward caring. It is not noisy with claims, but present in prayer, silence, and sincere attention. There, love transforms from desire to inner responsibility, from passion to clear concern.
Spiritually, love that desires only the well-being of others is a reflection of love for God. It teaches that loving does not always mean approaching, grasping, or demanding a role in someone's life. Sometimes, the highest form of love is ensuring that the person we love remains whole, calm, and unharmed, even without us.
How beautiful it would be if, in this demanding life, we were met with a heart that silently prayed for us, whose happiness depended not on our presence by their side, but on the news that we were well. Such love doesn't bind our steps, but strengthens our souls.
Ada momen dalam hidup ketika kejujuran terasa seperti berjalan sendirian di jalan yang sepi. Kata-kata yang lahir dari niat lurus tidak selalu disambut hangat, bahkan sering kali memicu penolakan. Dalam relasi sosial, kejujuran kerap dianggap ancaman karena ia membuka apa yang ingin disembunyikan. Ia mengguncang kenyamanan semu, merobek topeng, dan memaksa orang lain bercermin pada hal yang mungkin belum siap mereka terima.
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai apa yang membuatnya merasa aman, bukan selalu apa yang benar. Kemunafikan sering menjadi jalan pintas untuk mendapatkan penerimaan, pujian, dan rasa memiliki. Namun di balik itu, jiwa perlahan terkikis, karena hidup tidak lagi selaras antara apa yang dirasakan dan apa yang ditampilkan. Di sinilah kejujuran menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sebagai alat untuk menyenangkan orang lain, tetapi sebagai cara untuk tetap utuh sebagai manusia.
1. Kejujuran adalah kesetiaan pada diri sendiri
Kejujuran pertama-tama bukan ditujukan kepada dunia, melainkan kepada diri sendiri. Ia adalah kesediaan untuk tidak mengkhianati suara batin demi kenyamanan sosial. Dalam filsafat hidup yang sadar, keutuhan diri lebih berharga daripada popularitas sesaat. Ketika seseorang jujur, ia mungkin kehilangan simpati sebagian orang, tetapi ia memperoleh sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu rasa damai karena tidak hidup dalam kepura-puraan.
2. Kebencian sering lahir dari kebenaran yang mengusik
Tidak semua kebencian bersumber dari kesalahan. Ada kebencian yang muncul karena seseorang berani berkata apa adanya. Secara psikologis, kebenaran bisa memicu rasa terancam, terutama bagi mereka yang masih bergantung pada ilusi. Kejujuran menjadi cermin yang terlalu terang, sehingga lebih mudah memecahkannya daripada menatap pantulan diri sendiri. Memahami hal ini membuat hati lebih tenang saat penolakan datang.
3. Kemunafikan menawarkan cinta yang rapuh
Cinta yang lahir dari kemunafikan bersifat sementara dan bersyarat. Ia ada selama topeng tetap terjaga dan peran terus dimainkan. Secara sosial, hubungan semacam ini tampak harmonis di luar, namun kosong di dalam. Jiwa harus terus berjaga agar tidak terpeleset keluar dari skenario. Perlahan, kelelahan batin menumpuk, karena mencintai dan dicintai dengan kepura-puraan menuntut pengorbanan diri yang tidak pernah selesai.
4. Dibenci karena jujur adalah luka yang menyembuhkan
Rasa sakit akibat kejujuran memang nyata, namun ia bersifat membersihkan. Ia menyisakan relasi yang tulus dan menyingkirkan yang hanya bertahan karena kepalsuan. Secara filosofis, luka semacam ini adalah proses pemurnian, di mana manusia belajar memilih kualitas hubungan daripada kuantitas penerimaan. Dari sini, hidup menjadi lebih ringan, karena tidak semua orang harus dipertahankan untuk merasa berharga.
5. Keutuhan batin lebih bernilai daripada penerimaan sosial
Pada akhirnya, manusia hidup bersama dirinya sendiri lebih lama daripada den
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai apa yang membuatnya merasa aman, bukan selalu apa yang benar. Kemunafikan sering menjadi jalan pintas untuk mendapatkan penerimaan, pujian, dan rasa memiliki. Namun di balik itu, jiwa perlahan terkikis, karena hidup tidak lagi selaras antara apa yang dirasakan dan apa yang ditampilkan. Di sinilah kejujuran menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sebagai alat untuk menyenangkan orang lain, tetapi sebagai cara untuk tetap utuh sebagai manusia.
1. Kejujuran adalah kesetiaan pada diri sendiri
Kejujuran pertama-tama bukan ditujukan kepada dunia, melainkan kepada diri sendiri. Ia adalah kesediaan untuk tidak mengkhianati suara batin demi kenyamanan sosial. Dalam filsafat hidup yang sadar, keutuhan diri lebih berharga daripada popularitas sesaat. Ketika seseorang jujur, ia mungkin kehilangan simpati sebagian orang, tetapi ia memperoleh sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu rasa damai karena tidak hidup dalam kepura-puraan.
2. Kebencian sering lahir dari kebenaran yang mengusik
Tidak semua kebencian bersumber dari kesalahan. Ada kebencian yang muncul karena seseorang berani berkata apa adanya. Secara psikologis, kebenaran bisa memicu rasa terancam, terutama bagi mereka yang masih bergantung pada ilusi. Kejujuran menjadi cermin yang terlalu terang, sehingga lebih mudah memecahkannya daripada menatap pantulan diri sendiri. Memahami hal ini membuat hati lebih tenang saat penolakan datang.
3. Kemunafikan menawarkan cinta yang rapuh
Cinta yang lahir dari kemunafikan bersifat sementara dan bersyarat. Ia ada selama topeng tetap terjaga dan peran terus dimainkan. Secara sosial, hubungan semacam ini tampak harmonis di luar, namun kosong di dalam. Jiwa harus terus berjaga agar tidak terpeleset keluar dari skenario. Perlahan, kelelahan batin menumpuk, karena mencintai dan dicintai dengan kepura-puraan menuntut pengorbanan diri yang tidak pernah selesai.
4. Dibenci karena jujur adalah luka yang menyembuhkan
Rasa sakit akibat kejujuran memang nyata, namun ia bersifat membersihkan. Ia menyisakan relasi yang tulus dan menyingkirkan yang hanya bertahan karena kepalsuan. Secara filosofis, luka semacam ini adalah proses pemurnian, di mana manusia belajar memilih kualitas hubungan daripada kuantitas penerimaan. Dari sini, hidup menjadi lebih ringan, karena tidak semua orang harus dipertahankan untuk merasa berharga.
5. Keutuhan batin lebih bernilai daripada penerimaan sosial
Pada akhirnya, manusia hidup bersama dirinya sendiri lebih lama daripada den
🍂 What's the hardest feeling in the world?
The hardest feeling is loving sincerely, but having to let go without explanation.
The hardest thing isn't losing, but staying strong when there's no one else to turn to.
The hardest feeling is longing that can't be expressed.
The hardest feeling in the world is being sincere, when the heart still wants.
The hardest feeling is loving sincerely, but having to let go without explanation.
The hardest thing isn't losing, but staying strong when there's no one else to turn to.
The hardest feeling is longing that can't be expressed.
The hardest feeling in the world is being sincere, when the heart still wants.
There are times in life when crowds tire the soul. Laughter becomes noisy, conversation feels empty, and the presence of many no longer provides a sense of companionship. At that point, happiness comes not from cheers or recognition, but from distance. Isolating oneself isn't because of hatred for people, but because the heart needs space to breathe without demands, without roles, without masks.
Solitude is often misunderstood as an escape, but it can actually be a path to healing. In silence, people stop comparing their lives to others. There's no competition, no judgment, no need to appear good. The human psyche indeed needs a break, and a soul forced to adapt to crowds for too long will lose its true voice. Solitude provides an opportunity to re-hear the whispers of the heart long neglected.
Philosophically, humans only truly meet themselves when no one is watching. In the presence of crowds, we tend to become the version we're expected to be. In the presence of silence, we are forced to be honest. Therein arise the most fundamental questions about the meaning of life, the direction of our steps, and who we truly want to become. Solitude becomes an honest, if sometimes painful, mirror.
In solitude, our relationship with God finds a different depth. Prayer is no longer a routine, but a necessity. Silence transforms into an intimate inner dialogue. Many people find peace precisely when they withdraw from the hustle and bustle of the world, for it is there that the heart ceases to depend on humans and begins to rely entirely on God.
So don't be afraid of the phase of isolation. Not everyone who withdraws is lost. Some are returning to themselves. And often, true happiness is not found amidst crowds, but is born from the courage to sit quietly, alone, and make peace with who we truly are.
Solitude is often misunderstood as an escape, but it can actually be a path to healing. In silence, people stop comparing their lives to others. There's no competition, no judgment, no need to appear good. The human psyche indeed needs a break, and a soul forced to adapt to crowds for too long will lose its true voice. Solitude provides an opportunity to re-hear the whispers of the heart long neglected.
Philosophically, humans only truly meet themselves when no one is watching. In the presence of crowds, we tend to become the version we're expected to be. In the presence of silence, we are forced to be honest. Therein arise the most fundamental questions about the meaning of life, the direction of our steps, and who we truly want to become. Solitude becomes an honest, if sometimes painful, mirror.
In solitude, our relationship with God finds a different depth. Prayer is no longer a routine, but a necessity. Silence transforms into an intimate inner dialogue. Many people find peace precisely when they withdraw from the hustle and bustle of the world, for it is there that the heart ceases to depend on humans and begins to rely entirely on God.
So don't be afraid of the phase of isolation. Not everyone who withdraws is lost. Some are returning to themselves. And often, true happiness is not found amidst crowds, but is born from the courage to sit quietly, alone, and make peace with who we truly are.
Human sadness often stems not from harsh reality, but from a hasty heart and an impatient mind that accepts fate. Many inner wounds are created not because life is too cruel, but because desires exceed the prescribed rhythm. Humans suffer not simply from not having what they have, but from forcing it before its time, before their souls are mature enough to bear it.
Wanting something before its time is a subtle form of anxiety. The heart refuses to go along with the process; it wants the result without the journey. Yet, every delay is often a form of safeguarding. When something comes too quickly, it doesn't necessarily bring blessings. Time is not man's enemy, but a teacher shaping maturity. Sadness arises when humans become hostile to time and feel life is holding them back from happiness.
Wanting more than the prescribed amount is a sadness that stems from an inability to feel content. At this point, humans no longer enjoy what they have because their minds are busy calculating what they haven't achieved. Yet, destiny isn't about how little or how much, but about sufficiency. Many people appear abundant but are poor inside, because their hearts have never learned to stop asking. Sadness grows when desire outweighs gratitude.
Wanting what others have is the most exhausting form of sadness. It causes people to lose sight of their own lives. The heart is busy looking left and right, comparing its fate to that of others, as if life were a race. Yet, every person has a different path, different trials, and different happiness. Jealousy not only steals peace but also destroys sincerity.
Ultimately, peace is born not from the fulfillment of all desires, but from the heart's alignment with destiny. When people learn to wait, be content, and stop comparing, sadness loses its home in the soul. The heart returns to its original state: calm, open, and trusting that what comes comes in its own time, and what goes away was never meant to stay.
Wanting something before its time is a subtle form of anxiety. The heart refuses to go along with the process; it wants the result without the journey. Yet, every delay is often a form of safeguarding. When something comes too quickly, it doesn't necessarily bring blessings. Time is not man's enemy, but a teacher shaping maturity. Sadness arises when humans become hostile to time and feel life is holding them back from happiness.
Wanting more than the prescribed amount is a sadness that stems from an inability to feel content. At this point, humans no longer enjoy what they have because their minds are busy calculating what they haven't achieved. Yet, destiny isn't about how little or how much, but about sufficiency. Many people appear abundant but are poor inside, because their hearts have never learned to stop asking. Sadness grows when desire outweighs gratitude.
Wanting what others have is the most exhausting form of sadness. It causes people to lose sight of their own lives. The heart is busy looking left and right, comparing its fate to that of others, as if life were a race. Yet, every person has a different path, different trials, and different happiness. Jealousy not only steals peace but also destroys sincerity.
Ultimately, peace is born not from the fulfillment of all desires, but from the heart's alignment with destiny. When people learn to wait, be content, and stop comparing, sadness loses its home in the soul. The heart returns to its original state: calm, open, and trusting that what comes comes in its own time, and what goes away was never meant to stay.
I'M NOT PERFECT
If you want to find someone more comfortable than me, go ahead.
If you want to find someone better than me, go ahead too.
Because there are many people in this world who are better than me. But if you ask,
Why can't I find someone better than you?
The answer is, if I still want to find something better,
then I won't find the best.
One thing you need to remember:
The best and the perfect are created together, not sought...✍️
If you want to find someone more comfortable than me, go ahead.
If you want to find someone better than me, go ahead too.
Because there are many people in this world who are better than me. But if you ask,
Why can't I find someone better than you?
The answer is, if I still want to find something better,
then I won't find the best.
One thing you need to remember:
The best and the perfect are created together, not sought...✍️
Please Sign In
or Join for Free
to view the rest of this profile.